Mahallul Qiyam - Hukum Dan Asal Mula Berdiri Ketika Pembacaan Sirah Rasulullah

By Akhbar An - Nabawi - November 05, 2020

Apa itu Mahallul Qiyam?

Bagi kalangan Aswaja di Indonesia tentunya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya sholawatan. hal ini sudah mendarah daging dan menjadi rutinitas dalam kehidupan sehari-hari walaupun dengan lafadz yang paling singkat Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Terlebih lagi di Indonesia tatkala bulan Rabi'ul Awwal tiba, Masjid-masjid dipenuhi dengan acara maulidan dan tentunya diiringi dengan sholawatan dan pembacaan sirah Rasulullah. Semua orang bergembira menyambut bulan kelahiran Rasulullah Saw. Biasanya dalam rangkaian acara tersebut akan dibacakan berzanji, do'a, puji-pujian, serta tak lupa sirah Rasulullah Saw.

Dalam pembacaan kitab-kitab sholawat seperti maulid Al-Barzanji, maulid Simtudhurar, maulid Ad-Diba'i dan yang lainnya, selalu ada yang namanya sesi berdiri dari kalimat Asyraqal Badru 'Alaina dimana kalau sudah sampai situ para jamaah di mohon untuk berdiri. Berdiri karena kehadiran Rasulullah di tengah-tengah majelis. Ada juga yang menyebutnya sebagai marhabanan dari kalimat marhaban yang artinya selamat datang atas kehadiran baginda nabi atau dikenal juga dengan sebutan "Mahallul Qiyam".

Sebagian kita pasti penasaran kenapa kita harus berdiri? Yuk kita cek di bawah

Asal Mula 

Tradisi ini sudah dilakukan sejak abad pertengahan islam yang dilakukan oleh ulama bertaraf mujtahid di lingkungan Mazhab Syafi'iyah, yaitu Imam As-Subki. Hal ini disampaikan oleh ulama ahli sejarah Syekh Ali al-Halabi dalam kitabnya "Insan al-Uyun fi Sirat al-Amin al-Ma'mun."

ﻭﻗﺪ ﻭﺟﺪ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻨﺪ ﺫﻛﺮ اﺳﻤﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﻟﻢ اﻷﻣﺔ ﻭﻣﻘﺘﺪﻱ اﻷﺋﻤﺔ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﻭﺭﻋﺎ اﻹﻣﺎﻡ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺴﺒﻜﻲ، ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺸﺎﻳﺦ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ، ﻓﻘﺪ ﺣﻜﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ اﺟﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻩ ﺟﻤﻊ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎء ﻋﺼﺮﻩ ﻓﺄﻧﺸﺪ ﻣﻨﺸﺪ ﻗﻮﻝ اﻟﺼﺮﺻﺮﻱ ﻓﻲ ﻣﺪﺣﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ:

"Bentuk berdiri semacam ini ketika menyebut nama Nabi SAW (mahallul qiyam) sungguh telah ditemukan dari ulamanya umat Islam dan panutan para imam, dari segi agamisnya dan kewara'annya (menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat) yaitu Imam As-Subki dan diikuti para ulama di masanya. Sebagian ulama menceritakan bahwa Imam Subki dan para ulama berkumpul, lalu seorang penyair melantunkan syair pujian karya Ash-Sharshari untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama [bahr thawil] :

ﻗﻠﻴﻞ ﻟﻤﺪﺡ اﻟﻤﺼﻄﻔﻰ اﻟﺨﻂ ﺑﺎﻟﺬﻫﺐ ... ﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻣﻦ ﺧﻂ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﻛﺘﺐ

ﻭﺃﻥ ﺗﻨﻬﺾ اﻷﺷﺮاﻑ ﻋﻨﺪ ﺳﻤﺎﻋﻪ ... ﻗﻴﺎﻣﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﺃﻭ ﺟﺜﻴﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻛﺐ

"Sedikit sekali tulisan yang memuji Nabi pilihan dengan tinta emas di atas lembaran perak dalam tulisan terbaik. Hendaklah orang-orang mulia berdiri ketika mendengarnya, berdiri bershaf-shaf, atau berlutut diatas kendaraan."


ﻓﻌﻨﺪ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻡ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻓﺤﺼﻞ ﺃﻧﺲ ﻛﺒﻴﺮ ﺑﺬﻟﻚ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻭﻳﻜﻔﻲ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻻﻗﺘﺪاء


Saat itulah Imam As-Subki berdiri bersama orang yang hadir dalam majelis. Keharuan yang besar terdapat dalam majelis tersebut. Hal semacam ini sudah cukup [boleh] untuk diikuti" (As-Sirah Al-Halabiyah, 1/123 Dikutip banyak para ulama termasuk pengarang kitab Ianah Ath-Thalibin)

Dalil-Dalil

Memang kita tidak menemukan dalil spesifik di dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah yang memerintahkan atau melarang kita untuk berdiri di pertengahan pembacaan rawi. Tetapi ini masuk ke dalam bab Hurmah Wa Ta'dzim. Berdiri yang dilakukan orang tua dan guru kita lebih karena akhlak mereka terhadap Rasulullah Saw. Mereka pun jelas meneladani akhlah para Ulama sebagai pewaris Rasul. para ulama memandang hal ini sebagai istihsan dan termasuk kedalam Urf syar'i.

Dalil Pertama :

عن ابي سعيد الخدري قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا نصاز قوموا الى سيد كم ام خيركم (رواه المسلم)

Dari Abi Sa'id Al-Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda pada sahabat Anshar, "Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik diantara kalian"

Dalil Kedua :

Sayyid Bakri Bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyati menguraikan hal ini dalam kitab I'anatut Thalibin sebagai berikut.

(فائدة) جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد فعل ذلك كثير من علماء الامة الذين يقتدى بهم. قال الحلبي في السيرة فقد حكى بعضهم أن الامام السبكي اجتمع عنده كثير من علماء عصره فأنشد منشده قول الصرصري في مدحه صلى الله عليه وسلم: قليل لمدح المصطفى الخط بالذهب على ورق من خط أحسن من كتب وأن تنهض الاشراف عند سماعه قياما صفوفا أو جثيا على الركب فعند ذلك قام الامام السبكي وجميع من بالمجلس، فحصل أنس كبير في ذلك المجلس وعمل المولد. واجتماع الناس له كذلك مستحسن.
"Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad Saw disebut-sebut, orang-orang orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. berdiri seperti itu berdasarkan istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah Saw. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam."

Dalil Ketiga :
على أنه قد جرى استحسان ذلك القيام تعظيما له صلى الله عليه وسلم وعمل من يعتد بعمله في أغلب البلاد الإسلامية وهو مبني ما للنووي من جعل القيام لأهل القضل من قبيل المستحبات إن كان للإخترام لا للرياء
"Selama ini dinilai baik melakukan shalawat sambil berdiri sebagai penghormatan terhadap Nabi Saw. Hal tersebut berdasarkan pendapat Imam An-Nawawi yang menganggap berdiri untuk menghormati orang yang memiliki keutamaan adalah bagian dari amal sunnah jika dilakukan tidak untuk riya'. ( Al-Fatawa Al-Haditsiyyah li Ibn Hajar, hal 125)"

Dalil Keempat :
قد ورد في الأثر عن سيدنا البشر صلی الله عليه وسلم أنه قال : من ورخ مؤمنا فكأنما أحياة ، ومن قرأ تاريخه فكأنما زاره ، فقد استوجب رضوان الله في حرور الجنة

"Tersebut dalam sebuah Atsar - Rasulullah Saw bersabda : Siapa yang membuat sejara orang mukmin ( yang sudah meninggal) sama artinya menghidupkan kembali, siapa yang membacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang mengunjunginya. Siapa yang mengunjunginya, Allah akan memberinya surga." ( Bughyat Al-Mustarsyidin, hal 97)

Kesimpulan

Sebagaimana yang dapat kita simpulkan dari kumpulan dalil-dalil diatas bahwa hukum mahallul qiyam itu istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah Saw. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam.

Selagi fisik masih sehat, hadirilah majelis-majelis yang memperingati hari kelahiran rasulullah Saw, perbanyaklah sholawat kepada Rasulullah, karena disitu rahmat Allah Swt turun. disamping itu ada baiknya kita berdiri ketika mahallul qiyam sebagai bentuk cinta dan takdzim kita kepada Rasulullah Saw. Dan mejadikan seolah-olah rasulullah hadir di antara kita seperti yang dikatakan para ulama. Semoga Allah memberikan syafa'at kepada rasul-Nya untuk menyelamatkan kita baik di dunia dan di akhirat. Aamiin

Akhbar An - Nabawi ( Al-Faqiir) Khartoum, 19 Rabi'ul Awwal 1442 H


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

YOU MIGHT ALSO LIKE

Asy'ariyyin : Perjuangan Didalam Minoritas