Asy'ariyyin : Perjuangan Didalam Minoritas

By Akhbar An - Nabawi - Januari 06, 2022

       
       
        Pagi itu udara sangatlah dingin, aku terbangun dari tidurku dan kulihat jam menunjukkan pukul 04.40. ya 20 menit menjelang adzan shubuh dikumandangkan. Kulangkahkan kaki bersama seorang temanku keluar rumah untuk sholat berjamaah di masjid. Sambil bersedekap kedingan kamipun berangkat ke masjid, menoleh keadaan sekitar yang gelap gulita, was-was akan adanya harami(begal). Mengingat situasi dan kondisi sudan saat ini sedang tidak stabil, sering demo, mati jaringan, ya banyak begal juga, ahh sudahlah.

        Setelah menunaikan sholat, kusempatkan memuroja'ah sedikit hafalan dan membaca al-matsurat pagi, kemudian aku sarapan. Kulihat jam menunjukkan pukul 07.30. Setengah jam menjelang jadwal talaqqi bidang aqidah bersama syekh Imaduddin Abdurrahman Al-Asy'ari. 

          Hatikupun mulai berulah, bimbang memilih antara pergi atau tidak. Wajar saja, penyebabnya adalah karena hari ini merupakan hari kemerdekaan sudan, 1 Januari. Kulihat jalanan sepi, aku takut ada terjadi demo lagi, atau nanti ada harami di jalan? dan juga karena ini adalah majelis talaqqi pertamaku bersama beliau. Aku tidak tahu letak persis dimana tempat majelis beliau. Yang jelas di pengunguman hanyalah titik lokasi umumnya. "Salamah" merupakan kata kunci, ditambah nama masjid tempat halaqoh beliau.

        Sulitnya mencari guru Asy'ariyah di Sudan membuatkan berfikir dua kali untuk tak hadir ke majelis beliau. Akhirnya kubulatkan niat dan tekad. Akupun berangkat sendirian. Dengan modal nekat dan sedikit mental kerupuk untuk lari dari harami sudan yang hitam legam itu. Lho ga ada teman? Ada sih. Tapi semua teman-temanku memilih talaqqi hadits, sedangkan aku memilih untuk talaqqi aqidah.

            Singkat cerita dengan bantuan google maps akupun sampai di masjid tempat beliau mengajar. Setelah aku sholat 2 rakaat tahiyatul masjid kemudian beliau pun datang. Talaqqi pun dimulai. Temanya adalah al-hukmu al-'adi dengan kitab bashair al-azhariyyah 'ala mawahib ar-rabbaniyyah syarh al-muqoddimat as-sanusiyah. Beliau dengan sabar dan pemahamannya yang daqiq(dalam) menjelaskan kepada kami tentang rincian dari pembahasan hari ini. Terasa jelas di dalam hati tentang kesesuaian manhaj azhar beliau dengan pelajaran yang saya pelajari di pondok pesantren. Bisa dikatakan aku vakum lebih kurang selama 1 tahun tidak ada bertalaqqi aqidah. Kembali lagi ke permasalah awal yaitu sulitnya mencari syaikh-syaikh asy'ari. Kebanyakan sih salafi, yang mengikuti manhaj ibn taimiyah, abdul wahhab, dll. Beliau juga menjelaskan bagaimana efek samping jika kita tak paham dan tak bisa membedakan antara hukum 'adi dan hukum akal. Akibatnya yaitu ada sebagian firqah yang tak percaya akan mu'jizat, mereka berdalih bagaimana bisa sayyidina rasulullah tak makan selama berhari-hari (shaum al-anbiya) dan tidak merasa lapar, bagaimana api tak mebakar tubuh sayyidina ibrahim ketika raja namrudz menghukumnya. Itu semua kan tak masuk akal menurut mereka.

       Selepas talaqqi dan kamipun bersalam-salaman dengan beliau, aku ingin segera pulang kerumah karena ada pekerjaan (biasa la si tukang bisnis hehe). Tetapi syekh mengatakan untuk fathur(sarapan) bareng terlebih dahulu. Akupun tak kuasa menolaknya, karena duduk bersama para ulama banyak faedahnya, banyak berkahnya (sebenarnya gua lapar juga sih). 

        Disuguhi nasi mandhi, aku pun makan bersama para murid beliau, kebanyakan dari Fathani(thailand), dan satu orang Indonesia temanku. Setelah makan kami masih segan untuk beranjak dari tempat talaqqi beliau, karena beliau menyuguhkan syai(teh hangat ya guys). Makin betah dah, kebetulan cuaca sangat dingin. 

       Beliaupun mengambil sebuah kitab dan membuka pembicaraan. Ini dia yang aku tunggu-tunggu. Beliau menyampaikan perkataan Imam ar-Razi dalam kitab Syarh Wasithatul Sulukh. Ilmu itu terbagi dua. Ilmu dunia dan ilmu agama. Ilmu dunia banyak macamnya, ada kedokteran, arsitek, astrologi, dll. Sementara ulumuddin itu terbagi tiga yaitu tauhid(aqidah), fiqh, dan akhlaq. Inti dari semua ilmu ini adalah aqidah. Jika tauhidnya benar maka ilmu yang lain juga akan benar. Tetapi jika aqidahnya tidak benar maka yang berlaku adalah sebaliknya. Aqidah ibaratkan sebuah pondasi. Maka bagaimana orang yang aqidahnya bermasalah atau tidak memilik landasan? Sambil sedikit tertawa syekh mangatakan bagaikan orang yang bersandar kepada kayu lapuk atau berjalan diatas udara. Takkan mungkin. "Jika ingin bersandar maka bersandarkan kepada tiang yang kokoh" ucap beliau sambil mengisyaratkan sambil memegang sebuah tiang yang ada di sampingnya.

       Kemudian beliau mempersilahkan kami untuk bertanya. Akupun tak menyiakan kesempatan itu, walaupun aku masih barlom (anak baru:istilah sudan).

يا سيدي لماذا في السودان مشاييخ الأشعريين ليس كثير؟ اصلا السودان قريب مع المصر لكن لماذا ليس فنفس المنهاج؟
"Ya Syaikh, kenapa masyaikh asy'ariyyin di sudan tidak banyak? Padahal Sudan dengan Mesir sangatlah dekat, tetapi kenapa tidak satu manhaj?"

Syekh pun sambil tersenyum menjawab :

هذا السوؤل الصعب
"Ini adalah pertanyaan yang sulit"

         Lalu ia pun mulai bercerita, 31 tahun yang lalu, sebelum presiden Omar al-Bashir menjabat. Di Omdurman terdapat sebuah halaqoh besar yang terletak di Jami' Kabir. Mereka beraqidahkan as'ary sunni. Banyak sekali murid di halaqoh ini, dipimpin oleh seorang ulama kibar sudan. Ketika beliau meninggal, maka halaqoh ini mulai terpecah, ditambah dengan faktor eksternal yaitu tekanan dari rezim Omar al-Bashir.

            Beliau menjelaskan bagaimana rezim Omar al-Bashir mempengaruhi aqidah di sudan. Hal ini sangatlah menjadi faktor penentu perubahan sudan saat ini. Mereka menjadikan manhaj sebagai salah satu wasilah dalam kepentingan politik. Maka masuklah syiah dari Ethiopia, dan wahabi dari Saudi ke Sudan. 

Lalu saya bertanya,
واين البافي الطلاب الذين درسو في الجامع الكبير الآن يا سيدي؟
"Dimana sekarang murid-murid yang pernah belajar di jami' kabir ya syaikh?"

            Beliau menjawab :" mereka telah terpencar di berbagai daerah sudan dan kebanyakan dari mereka telah wafat. Itu sudah 30 tahun yang lalu. Dan sebagian dari mereka mastur(tersembunyi) dan tidak diketahui lagi, hal ini disebabkan karena sedikitnya orang yang belajar kepada mereka. Ada juga yang terkenal, tetapi hanya sedikit seperti syekh Awadh Abdul Karim ucap beliau. Salah satu syekh di PCNU Sudan.

             Syekh Imaduddin juga menjelaskan sebab mengapa sulit mendapatkan kitab asy'ariyah di Sudan. Dulu mereka pernah datang ke Ma'rad al-Kutub (International bookfair). Seperti Darul Taqwa-Suriyah, Darud Dhiya-Kuwait, Darul Minhaj-Jeddah, dll. Tetapi karena tidak ada harokah ilmiyyah(gerakan keilmuan) maka tahun berikutnya mereka tidak datang lagi. Hal ini juga dipengaruhi oleh kurangnya minat penuntut ilmu di Sudan untu membeli kita asy'ariyah. 

            Beliau bertanya, " Apakah di lingkungan kalian ada pengajian aqidah? Kalau ada kitab apa yang kalian baca?" Akupun menjawab " Ada ya syekh, kitab karangan syekh Sa'di, Muhammad bin Abdul Wahhab, dan ibn Taimiyah. Tetapi aku tak ikut bersama mereka." Beliaupun terkejut, dan berkata "Subhanallah kenapa bisa begini?" 

Lalu beliau kembali menanyakan " bagaimana dengan manhaj universitas?"

           Akupun menjawab "aku tak tahu persis apa manhaj di universitas ya syekh, tetapi di dalam pembelajaran kampus mereka banyak mengambil rujukan kepada qoul ibn Taimiyah dan ibn Qoyyim al-Jauziyah." Beliau pun berkata " Sudan pada saat ini sudah tak seperti dulu. Sudah banyak berubah akibat kepentingan pemerintah dan rezim politik"
           Ma syaa Allah, tak terasa hampir 4 jam kami duduk bersama beliau, kami pun berpamitan pulang sambil salam-salaman dan pergi dari majelis. Kami sangat banyak mengambil istifadah dari beliau harin ini. In syaa Allah bersambung di lain waktu.


Akhbar An - Nabawi ( Al-Faqiir) Imaroh Syaima, Khartoum, 2 Jumadal Akhirah 1443 H

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

YOU MIGHT ALSO LIKE

Asy'ariyyin : Perjuangan Didalam Minoritas