Tentu mendengar kata ini saja kita sudah membayangkan bagaimana keadaan di sana, ya negara dengan penduduk mayoritas berkulit hitam dan beriklim panas. Di negara inilah sekarang saya menetap untuk menuntut ilmu. Dalam kesempatan kali ini saya ingin berbagi kisah kepada pembaca sekalian. Oh iya. Jangan lupa cari posisi yang nyaman ya. Selamat membaca.
Pertama kali saya tiba di Sudan, tepatnya ketika saya turun dari pesawat, saya dan teman-teman sudah disambut dengan hawa panas padang pasir yang panasnya luar biasa sekali. Saya lihat ponsel dan indikator suhu menunjukkan angka 45 C.
Hari-hari pertama kedatangan saya di Sudan terasa berat, maklum lah, orang Asia yang tiba-tiba merantau ke Afrika. Sedikit sulit untuk penyesuaian, baik itu makanan, cara hidup, dan yang terutama "suhu".
Hari-hari pertama kedatangan saya di Sudan terasa berat, maklum lah, orang Asia yang tiba-tiba merantau ke Afrika. Sedikit sulit untuk penyesuaian, baik itu makanan, cara hidup, dan yang terutama "suhu".
Yang paling ekstrim adalah ketika musim panas terutama pada bulam Ramadhan, suhunya bisa berkisar hingga 50 C. Bayangkan saja, jika suhu yang digunakan untuk merebus telur hingga matang adalah 100 C, maka 50 C adalah suhu untuk telur separuh matang bukan?Jadi gosong saya😆
Untuk bertahan dari udara panas ini saya dan teman-teman mahasiswa Indonesia biasanya berdiam diri sekalian i'tikaf di masjid kampus. Mayan ada Ac. Istilah ini di sini disebut dengan " Ngadem". Jarang dari kalangan mahasiswa yang betah untuk berdiam diri di kamar, karena kamar hanya menyediakan fasilitas kipas angin saja. Walaupun kipas anginnya kencang, tapi yang namanya hawanya panas, tetap aja tuh kipas mutarin angin panas. jadi sama aja nggak, mau belajar panas, mau istirahat gitu juga. Oleh sebab itulah disini masjid jarang sepi, karena masjid disini dijadikan pusat kegiatan, tidak hanya beribadah saja, tetapi juga belajar bahkan untuk beristirahat.
Untuk bertahan dari suhu panas di sudan, sebagian dari mahasiswa yang kreatif mereka membuat pendingin sendiri. Supaya lebih nyaman dalam belajar dan melakukan kegiatan di ruangan.
Berbahankan sebuah gentong, kipas dinding, pompa akuarium, dll. Maka dirakitlah pendingin ala-ala AC. Biaya yang dibutuhkan lumayan untuk makan 1 bulan, yaitu 4000 Sdg atau sekitar 400 ribuan. Lebih murah dibandingkan membeli kipas angin biasa yang harganya sekitar 600 ribuan. Kok mahal banget?
Ya memang begitu, rata-rata barang elektronik di sudan memang mahal-mahal, berbeda dengan di Indonesia yang Made In China. In Syaa Allah akan kita bahas di Postingan selanjutnya.
![]() |
| "Tong Surga" |
Pendingin Ala-ala mahasiswa inilah yang saya sebut dengan "Tong Surga". di negara yang panas ini tong surga inilah yang mendatangkan kenyamanan dalam belajar dan istirahat. Tanpanya hampa terasa dunia ini😃. Begitulah ungkapannya. Terlebih ketika listrik mati, mau ngapain pun susah karena panasnya.
Terkhusus buat pembaca di Indonesia sudah selayaknya kita bersyukur diberikan tanah air yang nyaman, aman, dan kita diberikan juga oleh Allah Alim Ulama, Masyaikh, dan Asatiz. Allah sertakan juga kemudahan belajar di negeri sendiri. Gunakanlah waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya.
Kisah Perjuangan Mahasiswa Timur Tengah - Sudan Dalam Menuntut Ilmu
Akhbar An - Nabawi ( Al-Faqiir) Khartoum, 2 Agustus 2020



1 komentar
Mantap ustadz ��
BalasHapus#ardiyahya