Ada seorang 'abid ahli ibadah, zahid yang zuhud dimana dunia tidak masuk kedalam hatinya, ia bernama Ibrahim bin Adham, ia dijuluki sebagai dokter penyakit hati. Penyakit hati ini banyak sekali pembagiannya seperti riya, sum'ah, sombong, angkuh, dan lain-lain.
Diriwayatkan datang seorang lelaki kepada Ibrahim bin Adham ia berkata " Hai Abu Ishaq (gelar/kuniyah), Sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang banyak melakukan perbuatan dosa dan suka bermaksiat. Berilah aku nasihat supaya aku dapat berhenti dari perbuatan dosa ini."
Maka Ibrahim bin Adham menjawab "Jika kamu menerima 5 hal dan sanggup melakukannya, maka kamu akan terhindar dari segala perbuatan maksiat dan dosa." Tentunya hal ini sangat membangkitkan rasa penasaran si lelaki tersebut. Pada hakikatnya pastilah semua orang ingin terhindar dari perbuatan maksiat. Maka inilah dia strategi jitu Ibrahim bin Adham supaya tidak melakukan maksiat kepada Allah.
Sang lelaki langsung menjawab " Apa itu ya Abu Ishaq? Berikanlah aku yang 5 itu!"
Ibrahim bin Adham berkata "Yang pertama, Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah maka jangan kamu makan rezeki pemberiannya. Maka dari manakah seluruh makanan dan seluruh apa yang ada di bumi ini kecuali semua itu rezeki dari Allah Swt.?" Tentunya ini suatu jurus yang sangat ampuh luar biasa dari seorang thobibul qolbi, obat penyembuh penyakit hati yang bernama Ibrahim bin Adham. Kemudian Ia berkata lagi "Apakah baik jika engkau memakan rezeki dari Allah tetapi kamu bermaksiat kepada-Nya?
Si lelaki pun menjawab "Tidak, Berikan aku yang kedua"
Ibrahim bin Adham berkata "Yang kedua, Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah maka janganlah kamu tinggal di negeri, yang mana negeri itu milik Allah."
Si lelaki menjawab "Sesungguhnya ini lebih besar dari yang pertama, Allah adalah pemilik timur dan barat beserta apa yang ada di antara keduanya. Maka dimana lagi aku akan tinggal?"
Ibrahim bin Adham Berkata "Apakah baik jika engkau memakan rezeki-Nya dan tinggal di negeri-Nya sedangkan kamu bermaksiat Kepada-Nya?"
Si lelaki menjawab "Tidak, berikan aku yang ketiga"
Ibrahim bin Adham berkata "Yang ketiga, Jika engkau ingin bermaksiat sedangkan kamu didalam naungan rezeki-Nya dan tinggal di negeri-Nya, Maka carilah suatu tempat dimana tempat itu tidak bisa dilihat Allah maka bermaksiatlah di sana."
Si lelaki menjawab " Bagaimana mungkin aku bisa ya Ibrahim, sedangkan dia melihat semua yang tersembunyi!"
Ibrahim bin Adham berkata "Ya, Apakah baik jika engkau memakan rezeki-Nya, tinggal di negeri-Nya sedangkan kamu bermaksiat kepada-Nya dan Allah melihatmu dan apa yang kamu kerjakan?"
Si lelaki menjawab "Tidak, Berikan yang keempat."
Ibrahim bin Adham berkata "Yang keempat, Jika Malaikat maut datang kepadamu ingin mencabut nyawamu, maka bisakah engkau memintanya untuk mencabut nyawamu setelah kamu bertaubat nasuha dan beramal shalih kepada Allah?"
Si lelaki menjawab "Tentu malaikat maut tidak menerima permintaanku"
Ibrahim bin Adham berkata" Ya, Apabila engkau tidak sanggup menghindar dari kematian dan bertaubat sebelumnya maka bagaimana kamu berharap keselamatan?
Si lelaki berkata "Berikan aku yang kelima"
Ibrahim bin Adham menjawab " Yang kelima, Apabila datang kepadamu malaikat Zabaniyah di hari kiamat untuk memasukkanmu ke neraka maka janganlah kamu pergi bersama mereka."
Si lelaki berkata "Tentu mereka tidak menerima permintaanku"
Lalu Ibrahim bin Adham mengatakan " Lalu bagaimana kamu ingin selamat?"
" Ya Ibrahim, itu sudah sangat cukup untukku, Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadanya."
Si lelaki pun jatuh tersungkur dalam keadaan meneteskan air mata takut kepada Allah Swt. Ia berfikir ternyata tidak ada peluang untuk bermaksiat kepada Allah. Inilah renungan yang sangat mendalam dari kisah seorang hamba Allah yang 'abid, zahid, suci dan bersih hatinya, sehingga Allah ilhamkan kedalam hati itu jawaban pamungkas sehingga tak ada peluang sama sekali untuk bermaksiat. Lalu apa pelajaran yang dapat kita ambil? Memang ada ayat dan hadits yang menjelaskan tentang ini, tetapi bukankah untuk merangkai dan menjadikannya sebuah formula serta cahaya yang dapat masuk kedalam hati seseorang sangatlah sulit. Tetapi ketika Allah membukakan hati seorang hamba maka ia dapat menjawab dengan jawaban yang datang dari ilham yang dibisikkan oleh para malaikat dari Allah Swt.
Semoga apa yang datang dari hati itu masuk juga ke hati. Terkadang apa yang diucapkan dari mulut tak sampai ke telinga. Mudah-mudahan masuk ke relung hati yang paling dalam. Marilah kita merenung sejenak, masih sanggupkah kita berbuat dosa padahal kita makan dari karunia Allah? masih sanggupkah kita berbuat maksiat padahal yang kita injak ini bumi Allah? masih sanggupkah kita melawan perintah Allah sedangkan negeri yang kita diami ini semuanya adalah kuasa Allah? masih sanggupkah kita berkata untuk menunda bertaubat esok hari, padahal malaikat maut senantiasa mengintai kita setiap saat, oleh sebab itu marilah kita merenung sejenak dari kisah orang orang sholih. Betapa banyak orang yang mati dalam keadaan tidak menyebut nama Allah.
Selalu lah merasa di awasi oleh Allah (Muroqobatullah), hambanya tak luput dari pandangan Allah, jika terlintas dihatimu ingin berbuat dosa carilah tempat dimana tempat itu tidak dilihat Allah dengan Bashar-Nya, walaupun engkau diatas bukit, di tepi gunung, ditepi danau, diatas batu yg hitam ditengah malam yang kelam, engkau akan tetap dalam pandangan Allah.
وهو معكم اين ما كنتم (الحديد)
"Allah selalu bersamamu dimanapun kamu berada"
لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار (الأنعنم)
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan"
فاعتبروا يا أولي الأبصار
Akhbar An - Nabawi ( Al-Faqiir) Khartoum, Dakhiliyah Yazid 118, 9 Rabi'ul Akhir 1442 H
Sumber: Kitab at-Tawwabin li Ibn Qudamah
Jangan Lupa Share Jika Konten ini Bermanfaat.








